Thursday, February 28, 2013

Perumpamaan dan peribahasa Bahasa Arab


1- من جدّ وجد
Siapa bersungguh-sungguh maka akan berhasil
2- من صبر ظفِر
Siapa bersabar, akan beruntung
3- جالسْ أهل الصدق والوفاء
Temanilah orang-orang yang jujur dan menepati janjinya
4- وما اللّذّة إلا بعد التّعب
Tiada kesenangan kecuali setelah bersusah-susah dahulu
5- الصبر يعين على كل عمل
Kesabaran menolong semua pekerjaan
6- جرّبْ ولا حظ تكنْ عارفا
Coba dan perhatikan, niscaya kamu mengetahuinya
7- أطلب العلم من المهد إلى اللحد
Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahat(mati)
8- بيضة اليوم خير من دجاجة الغد
Telur hari ini lebih baik dari telur besok
9- الوقت أثمن من الذّهب
Waktu lebih berharga daripada emas
10- العقل السّليم في الجسم السّليم
Akal yang sehat terdapat pada jiwa yang sehat
11- خير جليس في الزّمان كتاب
Sebaik-baik teman adalah buku
12- منْ يزرع يحصد
Siapa menanam, dia akan menuai hasilnya
13- خير الأصحاب من يدلك على الخير
Sebaik-baik teman adalah yang menunjukkanmu kepada kebaikan
14- لولا العلم لكان النّاس كالبهائم
Seandainya tanpa ilmu, niscaya manusia sama dengan binatang
15- مودة الصديق تظهر وقت الضيق
Kecintaan teman terlihat pada saat kesusahan
16- العلم في الصغير كالنّقش على الحجر
Ilmu di waktu kecil bagaikan ukiran di atas batu
17- تعلّمنْ صغيرا واعمل به كبيرا
Belajarlah di waktu kecil dan amalkanlah di waktu dewasa
18- العلم بلا عمل كالشّجر بلا ثمر
Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tak berbuah
19- لن ترجع الأيّام التي مضتْ
Hari-hari yang telah lewat tidak akan kembali
20- الاتّحاد أساس النجاح
Persatuan pangkal keberhasilan
21- لا تحتقر من دونك فلكلّ شيئ مزيّة
Jangan menghina orang yang lebih rendah darimu, karena setiap sesuatu memiliki kelebihan
22- لا تحتقر مسكينا وكنْ له معينا
Jangan menghina orang miskin, tetapi jadilah penolong baginya
23- الشّرف بالأدب لا بالنّسب
Kemuliaan itu karena budipekerti bukan karena keturunan
24- سلامة الإنسان في حفظ اللّسان
Keselamatan seseorang adalah dengan menjaga ucapannya
25- آدب المرء خير من ذهبه
Budi pekerti seseorang itu lebih berharga daripada emasnya
26- سوء الخلق يعدى
Kerusakan budi pekerti itu menular
27- آفة العلم النّسيان
Bencana ilmu adalah lupa
28- إذا صدق العزم وضح السبيل
Jika benar kemauan, mudahlah jalan baginya
29- اصلح نفسك يصلح لك النّاس
Perbaikilah dirimu, niscaya orang lain akan berbuat baik padamu
30- فكّر قبل أن تعزم
Berfikirlah sebelum berkemauan
31- من عرف بعد السّفر استعدّ
Siapa mengetahui jauhnya perjalanan, bersiap-siaplah ia
32- من حفر حفرة وقع فيها
Siapa menggali lubang, terperosoklah ia di dalamnya
33- عدو عاقل خير من صديق جاهل
Musuh yang pintar lebih baik dari teman yang bodoh
34- من كثُر احسانه كثر إخوانه
Siapa banyak berbuat kebaikan, banyaklah temannya
35- اجهد ولا تكسل ولا تكن غافلا فندامة العقبى لمن يتكاسل
Bersungguh-sungguhlah dan jangan malas, dan jangan pula lengah karena penyesalan itu akan menghampiri orang yang bermalas-malasan
36- لا تؤخّر عملك إلى الغد ما تقْدِرُ أن تعمله اليوم
Jangan menunda pekerjaan yang bisa kamu lakukan sekarang
37- اترك الشّرّ يتركْك
Tinggalkanlah keburukan, dia akan meninggalkanmu juga
38- خير النّاس أحسنهم خلقا وأنفعهم للنّاس
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain
39- في التّأنّي السّلامة وفي العجلة النّدامة
Di dalam kehati-hatian ada keselamatan, sedangkan dalam ketergesah-gesahan terdapat penyesalan
40- ثمرة التّفريط الندامة وثمرة العزم السّلامة
Buah kelengahan adalah penyesalan sedangkan buah dari kecermatan adalah keselamatan
41- من قلّ صدقه قلّ صديقه
Siapa sedikit kejujurannya, maka sedikit pula temannya
42- قل الحقّ ولو كان مرّا
Katakanlah yang benar meskipun itu menyakitkan
43- الرفق بالضّعيف من الخلق الشّريف
Berlemah lembutlah kepada orang yang lemah karena itu adalah perbuatan yang mulia
44- جزاء سيّئةٍ سيئةٌ مثلها
Balasan kejahatan dalah kejahatan juga
45- ترك الجواب على الجاهل جواب
Meninggalkan jawaban orang yang bodoh adalah jawaban baginya
46- خير الأمور أوسطها
Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahannya
47- خير مالك مانفعك
Sebaik-baik hartamu adalah yang bermanfaat bagimu
48- ليس العيب لمن كان فقيرا بل العيب لمن كان بخيلا
Bukanlah sebuah cela bagi orang yang fakir, tapi cela itu bagi orang yang pelit
49- من طلب أخا بلا عيبٍ بقى بلا أخ
Siapa yang mencari teman tanpa cela (kekurangan), maka ia tetap tidak memiliki teman
50- من عذُب لسانه كثر إخوانه
Siapa baik tutur katanya, banyaklah temannya
51- لكل عمل ثواب و لكلّ كلام جواب
Setiap perbuatan ada balasannya, dan setiap perkataan itu ada jawabannya
52- ليس اليتيم الذي قد مات والده بل اليتيم يتيم العلم والأدب
Tidak dikatakan yatim orang yang ditinggal mati orang tuannya, tapi yatim itu adalah yatim ilmu dan budi pekerti
53- ليس الجمال بأثواب تزيّننا فإن الجمال جمال العلم والأدب
Kecantikan seseorang tidak dilihat dari pakaiannya, tetapi dari ilmu dan budi pekertinya
54- إذا تمّ العقل قلّ الكلام
Jika sempurna akalnya, sedikitlah ucapannya
55- هلك امْرء لم يعرف قدره
Binasalah orang yang tidak mengetahui dirinya sendiri
56- لا تكن رطْبا فتُعْصر ولا يابسا فتكسّر
Jangan menjadi orang yang lemah sehingga kamu diremehkan orang lain, dan janganlah kamu jadi orang yang kasar sehingga kamu dipatahkan atau dibenci orang lain
57- أطلب العلم ولو بالصّين
Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina
58- من تأنّى نال ما تمنّى
Siapa berhati-hati, berhasillah ia mencapai keinginannaya
59- من ظلم ظُلم
Siapa menzdolimi, akan didzolimi
60- رأس الذّنوب كذب
Pokok segala dosa adalah dusta
61- النّظافة من الإيمان
Kebersihan sebagi Jika an dari iman
62- إذا كبر المطلوب قلّ المساعد
Jika besar permintaan, maka sedikitlah yang menolong
63- انظر ما قال و لا تنظر من قال
Lihatlah apa yang diucapkan, jangan melihat siapa yang mengucapkannya
64- عثرة القدم أسلم من عثرة اللّسان
Tergelincirnya kaki lebih selamat dari tergelincirnya lisan
65- دواء الغضب بالصّمت
Obat kemarahan adalah diam
66- سيرة المرء تُنْبئ عن سريرته
Gerak-gerik seseorang menunjukkan rahasianya
67- خير الكلام ما قلّ ودلّ
Sebaik-baik ucapan adalah sedikit namun jelas
68- كلّ شيئ إذا كثر رخص إلا الأدب
Semua menjadi murah jika banyak, kecuali budi pekerti
69- لا خير في لذّة تعقب ندما
Tidak ada kebaikan dalam suatu kesenangan jika diiringi penyesalan
70- الكلام ينفذ ما لا ينفذ الإبر
Perkataan dapat menembus apa yang tidak dapat ditembus jarum
71- أوّل الغضب جنون وآخره ندم
Awal kemarahan adalah kegilaan dan akhirnya adalah penyesalan
72- قيمة المرء بقدر ما يحسنه
Nilai seseorang itu adalah sebesar perbuatannya
73- الحسود لا يسود
Orang pendengki tidak akan mulia
74- العمل يجعل الصعب سهلا
Bekerja membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah
75- لن تنال العلم إلا بستة: ذكاء و حرص و اجتهاد و درهم و صحبة أستاذ و طول زمان
Kamu tidak akan mendapat ilmu kecuali dengan enam perkara: kecerdasan, ketamakan, kesungguhan, harta, bergaul dengan guru, dan waktu yang panjang.

Friday, July 27, 2012

Sya'ir Ummy (IBU)

لِأُمِّكَ حَقٌّ لَوْ عَلِمْتَ كَبِيْرُ
Bagi Ibumu itu punya haq, jika kamu tahu begitu besar sekali haq itu.

كَثِيْرُكَ يَا هَذَا لَدَيْهَا يَسِيْرُ
... Segala balas budimu yang banyak sangat kecil dibandingkan jasa ibumu.

فَكَمْ لَيْلَةٍ بَاتَتْ بِثَقْلِكَ تَشْتَكِى
Beberapa malam ibumu tidak bisa tidur karena kesakitan berat mengandungmu iapun mengaduh.

لَهَا مِنْ جُوَاهَا أَنَّةٌ وَزَفِيْرُ
Dari rongga mulutnya keluar rintihan dan tangisan terisak-isak.

وَفِى الْوَضْعِ لَوْ تَدْرِى عَلَيْهَا مَشَقَّةٌ
Jika engkau mengerti, dalam melahirkanmu, Ibumu sangat berat sekali.

فَمِنْ غَصَصٍ مِنْهَا الْفُؤَادُ يَطِيْرُ
Karena sulitnya dalam melahirkan, hati serasa melayang.

وَكَمْ غَسَلَتْ عَنْكَ الْأَذَى بِيَمِيْنِهَا
Betapa seringnya Ibumu membersihkan kotoranmu dengan tangan kanannya.

وَمَا حِجْرُهَا إلَّا لَدَيْكَ سَرِيْرُ
Dan pangkuan Ibumu tiada lain menjadi tempat tidurmu

وَتُفْدِيْكَ مِمَّا تَشْتَكِيْهِ بِنَفْسِهَا
Dan Ibumu telah menebusmu dengan segala kesakitan dirinya

وَمِنْ ثَدْيِهَا شَرْبٌ لَدَيْكَ نَمِيْرُ
Dan dari susu Ibumu mengalir minuman segar bagimu.

وَكَمْ مَرَّةٍ جَاعَتْ وَأَعْطَتْكَ قُوْتَهَا
Betapa seringnya Ibumu menahan lapar namun tetap memberikan makan kepadamu.

حُنُوًّا وَإِشْفَاقًا وَأَنْتَ صَغِيْرُ
Karena rasa kasih saying dan kekhawatiranya ketika engkau masih kecil.

فَأَهًا لِذِى عَقْلٍ وَيَتَّبِعِ الْهَوَى
Alangkah hinanya bagi orang yang berakal, sedangkan ia mengikuti hawa nafsunya.

وَأَهًا لِأَعْمَى الْقَلْبِ وَهُوَ بَصِيْرُ
Alangkah hinanya bagi orang yang buta hatinya sedangkan matanya melihat.

فَدُوْنَكَ فَارْغَبْ فِى عَمِيْمِ دُعَاِئِهَا
Senangkanlah dirimu yang selalu ada dalam do’a Ibumu.

فَأَنْتَ لِمَا تَدْعُوْ إِلَيْهِ فَقِيْرُ
Sedangkan engkau selalu membutuhkan do’a Ibumu.

نعم

Begitu tulusnya hati orang tua maka alangkah besarnya dosa seseorang jika durhaka pada keduanya, tidak menuruti perintahnya, tidak taat padamya. Sabda Rasulullah SAW :
كُلُّ الذُّنُوْبَ يُؤَخِّرُ اللهُ تَعَالَى مَا شَاءَ مِنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ اِلَّا عُقُوْقَ
الْوَالِدَيْنِ فَاِنَّ اللهَ يُعَجِّلُهُ لِصَاحِبِهِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا قَبْلَ الْمَمَاتِ
رواه الطبرانى في الكبير عن أبى بكرة
” Tiap-tiap dosa siksanya diakhirkan (di tunda) oleh Allah yang maha luhur sampai hari kiamat dengan apa yang Allah kehendaki, kecuali dosa menyakiti kedua orang tua. Maka sesungguhnya Allah mempercepat siksa di dunia bagi orang yang menyakiti hati orang tuanya sebelum dia meninggal.”



Cerpen Bahasa Arab 3 ( Hati Lelaki)

قلب الرجل

الطريق إلى قلب الرجل معدته
جملة اعتدت أن أسمعها من أمي منذ أن وطئت قدماي مرحلة الثانوية

تعالي إلى المطبخ 00 حاولي أن تتعلمي بعض الأكلات 00 محاولات عدة قامت بها والدتي لأخترق عالم المطبخ الذي لم يكن يستهويني أبدا0 وكم تناقشنا في هذا الموضوع ! وكم حاولت أن أُفهم والدتي أن الطريق إلى قلب الرجل ليس معدته ، فرجل اليوم يختلف عن رجل الأمس ، والطرق عدة إلى قلبه ، والطعام آخر اهتمامات الشباب الآن ، ولكن كل منا كانت تتشبث برأيها ، وكم كنت أشعر بمدى بعد أمي عن تفكيري وإن كنت أتلاقى معها في نقاط كثيرة .. أصاب أمي اليأس من تغييري فتركتني أشق حياتي بمفاهيمي الخاصة
انتهت المرحلة الثانوية وانتهيت من دراستي في المعهد التجاري وجاء دور الزواج ، وكم كانت سعادتي كبيرة أن يكون أول من دق باب بيتنا شاباً متحضراً يدرس في الخارج ويريد زوجة يصطحبها معه لبلاد الغرب
بنطال من الجينز وقميص ملون وكلمات إنجليزية يلقيها بين الحين والحين
بالضبط كما كنت أرسمه في خيالي ، وبالتأكيد هذا النوع سيكون الطريق إلى قلبه ليس معدته كما كانت أمي تحاول دائماً أن تقنعني
تم الزفاف وسافرت مع زوجي حيث مكان دراسته ، وكم كانت أيام جميلة تلك التي عشتها ، فأنا بطبعي أحب الفوضى ولا أحب الحياة الرتيبة وكذلك هو
الغداء في مكان ، والعشاء في مكان ، والفطور ليس ضرورياً ، أسبوعان وحياتي أجمل مايكون حتى جاء اليوم الذي بدأت فيه دراسته بالجامعة مرة أخرى
أيقظني زوجي في الصباح الباكر على كلمات لم أكن لأستوعبها " سأذهب مع صديقي الآن للمزرعة لنأتي باللحم وسأشتري لك بعض مستلزمات المنزل ، هل تحتاجين شيئا معيناً " ؟
وبشفتين مثقلتين من أثر النوم ، وجفون أكثر ثقلاً شكرته وعدت لنومي مرة أخرى رهبة من جهلب بهذه الأمور وبعد فترة من الزمن لست أدري مداها عاد زوجي وقال لي أن الأغراض على الطاولة وأنه سيغادر ويعود في العصر
استيقظت من نومي وأعددت نفسي لتناول كوب من قهوة الصبح ، تلك التي كانت أحياناً أكافئ نفسي بتناولها ، وما إن وطئت قدماي أرض المطبخ حتى رأيت منظراً لم أره في حياتي لحم خروف كامل ملقى على سطح المطبخ وأكياس مبعثرة على طاولة السفرة ! منظر أصابني بالهلع ولم أستطع ان أمكث دقيقة في المطبخ ، أسرعت إلى الصالة ودموعي تسبقني وتنهمر بصورة لم أعهدها أبداً
" خوف من شيئ غريب" و" ارتباك من الموقف"
مشاعر عدة راودتني في هذه اللحظة دفعتني لأن أرفع سماعة الهاتف لأقوم بالاتصال بوالدتي بالرغم من اختلاف التوقيت بيننا ، وما إن سمعت صوتي حتى أخذت تصرخ ، وتحاول أن تعرف ما ! أخبرتها ، والبكاء يقطع كلماتي
صمتت والدتي ، ربما تحاول أن تلتقط أنفاسها ولم أسمع منها إلا ضحكة ثم جملة غريبة " هذا خبز خبزتيه ، أخذيه يا الرفلة وأكليه"
وطلبت مني أن أتصرف بمفردي ولا أتصل بها في هذا الوقت مرة أخرى ، أنهيت مكالمتي وزادت حيرتي وفي وسط هذه الدوامة من الحيرة إذا بباب الشقة يدق ، وما إن استفسرت عن الطارق حتى جاء صوتها خلفه ، " أنا أم نايف ، جارتك من السعوديه" ، نعم لقد أخبرني زوجي عنها وعن زوجها من قبل ولكننا لم نلتقِ
جففت دموعي بسرعة وفتحت الباب ، وبالرغم من تظاهري بالسعادة لزيارتها إلا ان سؤالاً ظل يطل من شفتيها وعينيها اللتين تحاولان أن تعرف ما بي ، وما إن بدأنا تبادل الحديث حتى وجدتني أبوح لها بسري وسط دموع تنهمر دون إرادتي ، بل اصطحبتها إلى المطبخ وجعلتها ترى هذا المنظر الفظيع
لم يكن هو هذا اليوم الوحيد الذي وقفت فيه أم نايف معي في مطبخي الصغير تعلمني وترشدني لما علي فعله ، بل توالت الزيارات وتتالت أوراق الوصفات وتتالت أيضاً أواني الطهي التي كنت أخفيها في أكياس القمامة بعد أن كنت أحرقها أثناء الطبخ ولا أعرف كيف أنظفها
الغريب في الأمر كله أنني اكتشفت اكتشافاً غريباً " أن الطريق إلى قلب الرجل هو معدته" وإن ارتدى الجينز والقميص الملون ، فلم أكن أحصل على عبارات الثناء إلا عندما أعد طبقاً مميزاً أو طبخة تذكر زوجي بطهي والدته
نعم00 الطريق إلى قلب الرجل مــعــدتــه وإن التف حولها محاولاً أن يتفاداها00 فلا بد أن يمر بها

Cerpen Bahasa Arab 2 (antara laut dan darat)

بين البحر والبر

لا اريد ان اطيل عليكم وسوف اترك لكم بطل هذه القصه يسردها لكم بنفسه كي تكونون اقرب للحدث فهو الوحيد الذي يستطيع التعبير عن شعورة في تلك المغامرة التي كاد ان يكون ثمنها حياته
كنت اعمل ملاحا في احدى السفن الشراعية والتي كان عملنا فيها هو نقل البضائع من بلد الى بلد آخر وتحت امرة التجار وهم اصحاب السفينة واصحاب البضائع ومهمتنا هي التحميل والتنزيل هذا بالاضافة الى حراسة السفينة من اللصوص في البحار وهم ما يسمون((القراصنة))
وعادة تكون الرحلات البحرية بعيدة جدا بحكم بعد البلاد والاقطار التي يجب نقل البضائع التجارية اليها ومنها ...... ومن الطبيعي انه كلما بعدت تلك المناطق عن بعضها كلما ازداد الخطر علينا وعلى البضاعة سواءا من قبل القراصنه او الاحوال الجوية من اعصارات وامواج عارمة .... وخاصة في قلب المحيطات الواسعة التي يكثر فيها التيارات البحرية الهائجة والتي تبتلع السفن بانيابها الشرسة ولم تكن الرحلات التي كنا نقوم بها خالية من المخاطر التي ذكرتها مسبقا وكان ضحيتها الكثير من البضائع والملاحين ... والتي دفعوا حياتهم ثمن لقمة العيش التي تركوا اهلهم بحثا وراءها ولم يجدوها
وفي أحد الايام خرجنا في رحلة الى احد البلا البعيــــــــــــــــــدة والتي لم يسبق لنا السفر اليها الا قبطان السفينة والذي هو الوحيد الذي سبق له السفر الى تلك البلاد البعيدة .... كانت لدينا مجموعة كبيرة من البضائع الثمينة وعددنا حوالي((23)) ملاحا بما فينا القبطان
ذهبت لاودع امي وزوجتي وولدي وابنتي .. وقبلت راس والدتي واوصيت زوجتي خيرا بامي واولادي والجيران.
تحركت السفينة بمشيئة الله تعالى نحو تلك البلاد التي لا نعرف عنها سوى اسمها ... ولا اخفيكم رغم انني اعمل في الملاحة منذ 14 عاما ولكني وجدت في نفسي شيئا من الخوف والقلق مالم اجده في الرحلات السابقة ((سبحان الله)) .... بدأت اذكر ادعية السفر التي اعتدت عليها في كل رحلة وادعي الله ان يرجعنا بالسلامه الى اهلينا اللذين ينتضرون عودتنا كما ينتظر الضمأن في الصحراء بماذا يرجع الدلو من عمق البئر
قضينا في قلب المحيط 17 يوما طبيعيا كسائر الايام التي كنا نسافر فيها الى البلاد البعيدة
وفي اليوم الثامن عشر من الرحلة المشئومة مرض قبطان السفينة مرضا شديدا واصيب بالحمى واصبح طريح الفراش.... انها مصيبة ... كل طاقم السفينة يرددون هذه الجمله ..... ماذا لو ؟؟؟؟ ... حقا سوف تكون كارثة ... هو الوحيد الذي يعرف جهة تلك البلاد وهو الوحيد الذي شبق له السفر اليها ....
وبعد مضي اسبوع ازدادت حرارة القبطان وزداد عليه المرض حتى انه لم يقدر على الكلام .... وفيما نحن جالسين ليلا في السفينة نتحدث عن اهلنا وعن ظروف الحياة التي ابعدتنا عنهم وعن مرض القبطان وخطورة عواقبه على السفينه والملاحين........ واذا بالقبطان يمشي ويقترب منا واذا هو بصحة وعافية (فرحنا فرحا كثير ) ولم نعلم ان بعد هذا الفرح حزن طويل؟؟؟؟؟
جلسنا مع القبطان نتحدث عن تلك البلاد وعن سكانها وعن تضاريسها الجميله وفي ىواخر الليل ذهب القبطان للنوم وترك مساعده يقود السفينه ونام بعض الملاحه اللذين يبدأ عملهم نهارا
وفي صباح اليوم التالي كنت على وشك النوم لانني تعب من سهر البارحة ومن حراسة السفينة واذا بصوت احد الملاحه ينادي .... مات القبطان مات القبطان .... القبطان لا يتحرك من فراشه الحقوا عليه
هرعت لما سمعت من الخبر وذهبت الى فراش القبطان واذا بالمفاجأه .... القبطان لا يتحرك كالخشبه
انها كارثة حقيقية .... ما العمل الآن ماذا نفعل كيف نستطيع الوصول الى تلك البلاد التي لا نعرفها
وبد ان قمنا بالصلاة على القبطان وقمنا بإلقاة في المحيط خوفا من ان يتعفن في السفينه ... اجتمعنا مع مساعد القبطان وبدأ يتحدث الينا وهو اكثرنا تأثرا بموت صاحبه واحساسة بالمسؤلية تجاه المشكلة والمصيبة التي نحن فيها
بعض الملاحة اشار الى ان نرجع من حيث سرنا ... ونعود الى بلادنا التي نعرف طريقها واتجاهها .. وبذلك نحمي البضاعة ولا نغامر بالمجهول
والبعض الاخر راى ان نكمل مسيرتنا فقد نصل الى اي بلد نسألهم عن تلك البلاد وقد يرشدونا اليها ونصل اليها وتنتهي هذه المشكله
وتركنا الراي للمساعد الذي فضل اسمترارنا في الرحلة المجهوله واخذ برأي الفريق الثاني.... واكملنا رحلتنا في قلب المحيط
وفي احدى اليالي الباردة والقارصة البرودة احسسنا بهدوء غير مألوف في البحر حتى ان السفينة توقفت عن المسير ...... واستغربنا ذلك الهدوء .... وبعد ساعات قليلة واذا بالهواء يتحرك من جديد ولكن هذه المرة بسرعة شديدة ..... الله اكبر انه اعصار بحري..... انها عاصفه ..... واذا بالسفينة تهتز من قوة الهواء والريح وبدات الأموت تلطم السفينة من هنا وهناك ونحن في وسطها كالدمى الصغيرة لا ندري ما ذا نفعل وبعد قليل حدثت الكارثه الكبرى .... اعصار لم يشهد له مثيل يهز السفينه ونحن مع كل هزه نقول... يارب سترك يارب سلم يارب سلم .... لا اله الا الله ..... يارب انا نلجأ اليك في هذا اليوم العصيب ... والاعصار يزداد حتى جاءت الساعة الموعودة واذا بموج هائل يلطم السفينه حتى مزقها تمزيقا.... وقذف بها في اعماق المحيط قطعا خشبية صغيرة
وبعد مدة لا اعرف مقدارها .......... واذا برجلين يجلساني من النوم ... فقمت فزعا واذا بهما يبكيان ... وعندما امعنت النظر بهما واذا هم من اصحابي في السفينه قام الموج بمشيئة الله وحوله وقدرته بحذفنا في محيط الجزيرة ... فاخذت ابكي ابكي معهم على مالا جرى لاخوتنا في السفينة وحمدنا الله على سلامتنا
وسرنا على الشاطئ واذا بي ارى شيئا على الشاطي واسرعنا اليه واذا بهم اربعة من اصحابنا جرى لهم مثل الذي جرى لنا وقمنا بسحبهم الى اليابس واخذنا نطببهم وبعد مده افاقوا من غيبوبتهم واذا بنا سبعة اشخاص في جزيرة غريبة لا نعرف عنها شيئا ... فقمنا بالدخول الى الادغال الكثيفة داخل الجزيرة المليئة بالوحوش الضارية والثعابين والحشرات السامة ... وبعد ان جمعنا الطعام واكلنا ما قسم الله لنا من فواكة وجوز الهند .... واذا بنا نسمع صوت يمشي على الحشائش فظننا انه وحش مفترس ولكن بعد لحظات واذا هما رجلان يتكلمان بنفس لغتنا واذا بأحد اصحابنا يصيح انهما فلان وفلان اقسم بالله هذا صوتهما ... وعندما سمعاه الرجلان قاما بالاقتراب منا وعندما ظهرا من بين الشجيرات والحشائش واذا هما من اصحابنا في السفينة حدث لهما مثل ما حدث لنا فسلمنا عليهما فبد ان اجهشا بالبكاء واصبحنا تسعة رجال
جلسنا نتحدث عن السفينة والايام السالفة والاعصار وموت القبطان وغيرها من الامور التي حدثت لنا في المحيط
وعندما جن علينا الليل شعرنا بالخوف .... كيف نستطيع النوم في هذه الغاب المليئة بالوحوش والقوارص واخذنا نسطف جنبا الى جنب ونمنا
وفي اليوم التالي واذا بالمفاجأة الهائله والمصيبة السوداء .... جلسنا من النوم ولم نجد احد اصحابنا في مكانه ... بحثنا عنه في كل مكان فلم نجده حتى جاء المغرب ونحن لم ناكل اي شئ نبحث عن صاحبنا .. فقلنا لعله ذهب واضل الطريق... والبض قال انه مات وافترسه وحش
وفي اليل اصابنا قمنا بالنوم وفي اليوم التالي واذا باحدنا غير موجود في مكانه واختفى تماما .... واخذ الخوف يملؤنا والرعب يدب بيننا ونحن نتساءل ما هو السبب اين اختفى كيف لماذا؟؟؟؟؟؟؟؟؟؟؟؟؟؟.
لا اريد ان اطيل عليكم بعد سبعة ايام لم نبقى الا انا واحد اصحاب السفين (؟؟؟؟؟؟؟؟؟) واخذا الخوف والرعب والقلق منا ما اخذ .... وحن نتوقع ان كلا منا سوف يختفي صباح اليوم التالي وندعو الله ان يستر علينا وان يحمينا من شر ما خلق
انها المصيبة الحقيقية وعند طلوع الفجر قمت كي اصلي واذا بصاحبي ليس بجني ..... فأصبت مجنون ... نعم اصبحت مجنونا .... واخذت اركض دون عقل حتى كاد يتوقف قلبي من الفزع ...... اخذت اركض من الفجر حتى قربت الشمس على الغياب وانا في غير صوابي ..... وعندما جن علي الليل واذا بي ابكي وابكي وابكي وابكي ...... وتمنيت لو اني غرقت مع من غرق بالسفينه
واذا بصوت يناديني .... لعله ملك.... قل يا من يجيب المظطر اذا دعاه ويكشف السوء .... يا من يجيب المضطر اذا دعاه ويكشف السوء (ثلاثا) ... فعندها اصبت بصاعقة لهول ما ارى ... ومن خوفي وهولي قلت تلك الكلمات وانا اتضرع لله تعالي واشكو اليه ضعف قوتي وقلة حيليتي ... وتوكلت على الله ... وتسلقت شجرة جوز عالية جدا وهممت ولم تغمض عيناي من الخوف..... في آخر الليل واذا بصوت لم استطيع تمييزه يقترب من الشجرة وعندما نظرت اسفل الشجرة واذا هي حيون غريب الشكل تخج من فمه لهبا ونارا يريد ان يسقط الشجره .... فعندها ايقنت ان هذا سر اختفاء اصحابي الثمانية ونظرت مرة اخرى فلم اجده ونظرة اخرى فاذا هو مستقر في مكانه..... فتوقعت حينها انه من الجن .... دعوت الله بما دعوته سابقا فاختفى الحيوان ولم اره ثانيا
وفي الصباح نزلت من الشجرة واذا بها محترقة من اسفل .... بسبب ذلك الحيوان الجني .... فنزلت مسرعا وكنت من الجوه ااكل العشب والحشائش
وابتعدت كثيرا عن ذلك المكان الذي كنت فيه .. واصبحت في تلك الغابه كاحيوانات الاخري وصنعت سلاحا ادافع فيه عن نفسي واصطاد الحيوانات للاكل
وفي يوم ما خرجت من كوخي الصغير الذي صنعته لنفسي خرجت للصيد وفي اثنا عودتي واذا بي ارى انسانا نصفه اسود والنصف الثاني ابيض وعندما اقتربت منه فر مسرعا ودخل في غار كبير جدا ولم يخرج ... ولم ادخل خلفه خوفا من المجهول ..... فأخذت افكر ماهذا المخلوق ربما يكون من الجن وكيف نصفه اسود وابيض... وواخذت اياما اتردد على هذا المكان وهو اذا رآني يسرع بالدخول خوفا مني فاخذت اقترب اليه شيئا فشيئا واعطيه الطعام من بعيد وبعد مرور مدة طويله استطعت الوصول اليه من قريب.... واذا هي ارأه يغطي نصفها شعر رأسها والنصف الاخر من جسمها لا يغطية شي
وبعد مده اعطيتها الطعام يدا بيد ولم امسك بها خوفا من ان تهرب .... وفي يوم من الايام اعطيتها الطعام ولم تهرب مني ابدا ولكن لا تعرف كلامي ولا اعرف كلامها مرت الايام وتعلمت مني بعض الكلام . فأحببتها واحبتني .. وتزوجتها .... وبعد مده رزقنا الله بمولود
اخذنا نفكر كيف نخرج من الغابه ..... فاقترحت علي صنع قارب من الشجر الكبير ..... وفعلا قمنا بصناعة القارب ..... وجهزنا امتعتنا وههمنا بالخروج من السفينه
وعندما ركبا القارب وهو مربوط على الشاطئ ..... جاءت ريح عاصفه واخذت القارب قبل ان اركب معهم ولم استطع اللحاق بهما لانهما دخلات في جوف البحر
اصبت بكارثة حقيقة انهما زوجتي وولدي ..... ما ذا افعل .... اخذت ابكي حتى اسودت عيناي من الاسى والحزن ..... سبحان الله في تلك اللحظة تذكرت قول ذلك الملك .... يامن يجيب المظطر اذا دعاه ويكشف السوء.... فدعوة الله بها كثير مئات المرات وانحلت قواي وغلبني النوم .... وعندما غرقت في النوم حلمت برجل له جناحان يقول لي اركب على جناحي لاوصلك لزوجتك وولدك فركبت .... سبحان الله .... وما احسست الا وزوجتي تجلسني من النوم وهي تبكي وعندما جلست من النوم واذا بي بين زوجتي وولدي .... فحمدت الله حمدا كثيرا على نعمته وفضله .... فسبحان الله رب العالمين


Cerpen Bahasa Arab 1 (kamu adalah aku namun aku bukanlah kamu)

أنت أنا .. ولكنى .. لست أنت

تاريخ النشر : 2012-04-28
كبر الخط صغر الخط

توقفت أمام نفسى ربما لحظات .. ربما ساعات .. أحاول أن أعرف سؤال يدوى باعماقى .. بل أراد أن يخترق وجدانى ويخرج من فمى مدويا لنفسى .. !!
ماذا تريد .. !! هل فعلت كل ما اردت .. أم مازلت تحاول ,,!! ولما دائما .. أراك تبحث .. !!
هل أنت سؤال دائم يحتاج الى اجابة موضعها بك أنت .. !! أم أنت مجرد وهم توهم نفسك به .. دون شعور .. يجعلك دائما تعيش عبر مآساة مفتعله .. من أنت ..!! ولماذا تعذبنى .. ودائما تلوذ بالفرار منى .. وكأننا منفصلين .. وكأننا جسدين .. مبتعدين لا مجتمعين فى جسد واحد .. !!

من أنت .. !! هل أنت حب تائه دون جدوى .. أم خيبة أمل يملئها الفشل الدائم .. أم وضوح ليس واضح لى .. !!
لقد تعبت من مناداتك .. ألم يشأ القدر أن نجتمع سويا .. كما يجمعنا هذا الجسد .. !! أسنظل هكذا .. بين التمنى وعدم القناعه .. !!
ربما عرفتك .. ربما تعلمت كثيرا من أفعالك .. تعلمت الشكوى منك .. تعلمت الخروج عن واقعى .. تعلمت المناجاة بغير أمل .. نعم .. تعلمت منك .. تعلمت منك عدم الأساءة الا الى .. بل تعلمت منك عدم الصراخ الا الى ..
لن أحظى برضاك أبدا .. لن أحظى .. فكلانا صوتين .. صوت يحلم دائما .. والآخر يفيقة .. صوت يتنغم دائما .. والثانى يحاول اسكاته .. لن نتقابل أبدا عند خط واحد .. بل نحن .. متضادين .. وللأسف .. لسنا منفصلين .. فأنت ... أنا ... ولكنى ... لست أنت ..


Tasawwuf

Pengertian Tasawuf

1.    Beberapa definisi dari syekh besar sufi:

a)    Imam Junaid dari Baghdad (m.910) mendefinisikan tasawuf sebagai "mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah".
b)    Syekh Abul Hasan asy-Syadzili (m.1258), syekh sufi besar dari Afrika Utara, mendefinisikan tasawuf sebagai "praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan".
c)    Syekh Ahmad Zorruq (m.1494) dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai berikut:  Ilmu yang dengannya Anda dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan Anda tentang jalan Islam,khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal Anda dan menjaganya dalam batas-batas syariat Islam agar kebijaksanaan menjadi nyata. Ia menambahkan, "Fondasi tasawuf ialah pengetahuan tentang tauhid, dan setelah itu Anda memerlukan manisnya keyakinan dan kepastian; apabila tidak demikian maka Anda tidak akan dapat mengadakan penyembuhan 'hati'."
d)    Menurut Syekh Ibn Ajiba (m.1809): Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya Anda belajar bagaimana berperilaku supaya berada dalam kehadiran Tuhan yang Maha ada melalui penyucian batin dan mempermanisnya dengan amal baik. Jalan tasawuf dimulai sebagai suatu ilmu, tengahnva adalah amal. dan akhirnva adalah karunia Ilahi.
e)    Syekh as-Suyuthi berkata, "Sufi adalah orang yang bersiteguh dalam kesucian kepada Allah, dan berakhlak baik kepada makhluk".
2.    Dari banyak ucapan yang tercatat dan tulisan tentang tasawuf seperti ini, dapatlah disimpulkan bahwa basis tasawuf  ialah penyucian "hati" dan penjagaannya dari setiap cedera (kesalahan), dan bahwa produk akhirya ialah hubungan yang benar dan harmonis antara manusia dan Penciptanya. Jadi, sufi adalah orang yang telah dimampukan Allah untuk menyucikan "hati"-nya dan menegakkan hubungannya dengan Dia dan ciptaan-Nya dengan melangkah pada jalan yang benar, sebagaimana dicontohkan dengan sebaik-baiknya oleh Nabi Muhammad saw.
Kapan Munculnya Tasawuf?
Penting diperhatikan bahwa istilah tasawuf/sufi hampir tak pernah digunakan pada dua abad pertama Hijriah. Banyak pengritik sufi, atau musuh-musuh mereka, mengingatkan kita bahwa istilah tersebut tak pernah terdengar di masa hidup Nabi Muhammad saw, atau orang sesudah beliau, atau yang hidup setelah mereka.
Namun, di abad kedua dan ketiga setelah kedatangan Islam (622), ada sebagian orang yang mulai menyebut dirinya sufi, atau menggunakan istilah serupa lainnya yang berhubungan dengan tasawuf, yang berarti bahwa mereka mengikuti jalan penyucian diri, penyucian "hati", dan pembenahan kualitas watak dan perilaku mereka untuk mencapai maqam (kedudukan) orang-orang yang menyembah Allah seakan-akan mereka melihat Dia, dengan mengetahui bahwa sekalipun mereka tidak melihat Dia, Dia melihat mereka. Inilah makna istilah tasawuf sepanjang zaman dalam konteks Islam.

Macam-macam Tasawuf

Dari sekian banyak pendapat dan ajaran Tasawuf, Pada intinya pemahaman akan ajaran Tasawuf terbagi atas 3 macam golongan, antara lain :
a)    Tasawuf Amali ( Tasawuf Terapan), Tasawuf ini lebih menekankan pada praktek ritual terdapat pada amaliah-amaliah tasawuf, seperti tarekat, dzikir/mujahadah, ihsan dan lainnya. Adapun tokohnya, semisal Al-Ghazali, Al-Junaidy, Ibnu Athoillah dan lainnya.
b)    Tasawuf Ilmu, Tasawuf ini lebih cenderung bersifat sekedar pengetahuan teoritis saja, sehingga orang yang mempelajari tasawuf lebih cenderung hanya sebagai tambahan pengetahuan khazanah ilmuan saja. Sehingga ilmu tasawuf seringkali menjadi ajang perdebatan dan diskusi keilmuan belaka. Seperti yang diberikan pada sekolah/Perguruan Tinggi Islam, dll.
c)    Tasawuf Falsafi, Tasawuf ini dapat kita jumpai pada ajaran ortodox/heterodox yang terdapat pada Faham-faham Pantheisme, semisal : Hulul (Abu Mansur Al-Halaj), ittihad (Abi-Yazid Al-Bistami), Wihdatul wujud (Ibnu Arabi), dan lainnya.

Tahapan-Tahapan Tasawuf
Ada empat macam tahapan yang harus dilalui oleh hamba yang menekuni ajaran Tasawuf untuk mencapai suatu tujuan yang disebutnya sebagai “As-Sa’aadah” menurut Al-Ghazaliy dan Al-Insaanul Kaamil” menurut Muhyddin bin ‘Arabiy.Keempat tahapan itu terdiri dari Syari’at, Tarekat, Hakikat dan Marifat.
Dari tahapan-tahapan tersebut, dapat dikemukakan penjabarannya sebagaiberikut:

1.Syariat
Istilah syari’at, dirumuskan definisinya oleh As-Sayyid Abu Bakar Al-Ma’ruf dengan mengatakan: “Syari’at adalah suruhan yang telah diperintahkan oleh Allah, dan larangan yang telah dilarang oleh-Nya.”
Kemudian Asy-Syekh Muhammad Amin AL-Kurdiy mengatakan:
“Syari’at adalah hukum-hukum yang telah diturunkan kepada Rasulullah SAW., yang telah ditetapkan oleh Ulama (melalui) sumber nash Al-Qur’an dan Sunnah ataupun dengan (cara) istirahat: yaitu hukum-hukum yang telah diternagkan dalam ilmu Tauhid, Ilmu Fiqh dan Ilmu Tasawuf.”
Hukum-hukum yang dimaksud oleh Ulama Tauhid; meliputi keimanan kepada Allah, malaikat-Nya, Kitab Suci-Nya, Rasul-Nya, Hari Akhirat, Qadha dan Qadar-Nya; dalam bentuk ketaqwaan dengan dinyatakan dalam perbuatan Ma’ruf yang mengandung hukum wajib, sunat dan mubah; dan meninggalkan mungkarat yang mengandung hukum haram dan makruh.
Dan hukum-hukum yang dimaksudkan oleh Fuqaha, meliputi seluruh perbuatan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan-nya; yang disebut “ibadah mahdhah” atau taqarrub (ibadah murni atau ibadah khusus) serta hubungannya dengan sesame manusia dan makhluk lainnya, yang disebut “ibadah ghairu mahdhah” atau “ammah” (ibadah umum).
Kemudian hukum-hukum yang dimaksudkan oleh Ulama Tasawuf, yang meliputi sikap dan perilaku manusia, yang berusaha membersihkan dirinya dari hadats dan najis serta maksiat yang nyata dengan istilah “At-Takhali”. Lalu berusaha melakukan kebaikan yang nyata untuk menanamkan pada dirinya kebiasaan-kebiasaan terpuji, dengan istilah “At-Thalli”.
Bila syari’at diartikan secara sempit, sebagaimana dimaksudkan dalam pembahasan ini, maka hanya meliputi perbuatan yang nyata, karena perbuatan yang tidak nyata (perbuatan hati), menjadi lingkup pembahasan Tarekat. Oleh karena itu, penulis hanya mengemukakan perbuatan-perbuatan lahir, misalnya perbuatan manusia yang merupakan penomena keimanan, yang telah dibahas dalam Ilmu Tauhid. Penomena keimanan itu, terwujud dalam bentuk perbuatan ma’ruf dan menjauhi yang mungkar.

2. Tarekat
Istilah Tarekat berasal dari kata Ath-Thariq (jalan) menuju kepada Hakikat atau dengan kata lain pengalaman Syari’at, yang disebut “Al-Jaraa” atau “Al-Amal”, sehingga Asy-Syekh Muhammad Amin Al-Kurdiy mengemukakan tiga macam definisi, yang berturut-turut disebutkan:
1) Tarekat adalah pengamalan syari’at, melaksanakan beban ibadah (dengan tekun) dan menjauhkan (diri) dari (sikap) mempermudah (ibadah), yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah.
2) Tarekat adalah menjauhi larangan dan melakukan perintah Tuhan sesuai dengan kesanggupannya; baik larangan dan perintah yang nyata, maupun yang tidak (batin).
3) Tarekat adalah meninggalkan yang haram dan makruh, memperhatikan hal-hal mubah (yang sifatnya mengandung) fadhilat, menunaikan hal-hal yang diwajibkan dan yang disunatkan, sesuai dengan kesanggupan (pelaksanaan) dibawah bimbingan seorang Arif (Syekh) dari (Shufi) yang mencita-citakan suatu tujuan.
Menurut L. Massignon, yang pernah mengadakan penelitian terhadap kehidupan Tasawuf di beberapa negara Islam, menarik suatu kesimpulan bahwa istilah Tarekat mempunyai dua macam pengertian.
a) Tarekat yang diartikan sebagai pendidikan kerohanian yang sering dilakukan oleh orang-orang yang menempuh kehidupan Tasawuf, untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut “Al-Maqamaat” dan “Al-Ahwaal”.
b) Tarekat yang diartikan sebagai perkumpulan yang didirikan menurut ajaran yang telah dibuat seorang Syekh yang menganut suatu aliran Tarekat tertentu. Maka dalam perkumpulan itulah seorang Syekh mengajarkan Ilmu Tasawuf menurut aliran Tarekat yang dianutnya, lalu diamalkan bersama dengan murid-muridnya.
Dari pengertian diatas, maka Tarekat itu dapat dilihat dari dua sisi; yaitu amaliyah dan perkumpulan (organisasi). Sisi amaliyah merupakan latihan kejiwaan (kerohanian); baik yang dilakukan oleh seorang, maupun secara bersama-sama, dengan melalui aturan-aturan tertentu untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut “Al-Maqaamaat” dan “Al-Akhwaal”, meskipun kedua istilah ini ada segi prbedaannya. Latihan kerohanian itu, sering juga disebut “Suluk”, maka pengertian Tarekat dan Suluk adalah sama, bila dilihat dari sisi amalannya (prakteknya). Tetapi kalau dilihat dari sisi organisasinya (perkumpulannya), tentu saja pengertian Tarekat dan Suluk tidak sama.
Kembali kepada masalah Al-Maqaamaat dan Al-Akhwaal, yang dapat dibedakan dari dua segi:
a). Tingkat kerohanian yang disebut maqam hanya dapat diperoleh dengan cara pengamalan ajaran Tasawuf yang sungguh-sungguh. Sedangkan ahwaal, di samping dapat diperoleh manusia yang mengamalkannya, dapat juga diperoleh manusia hanya karena anugrah semata-mata dari Tuhan, meskipun ia tidak pernah mengamalkan ajaran Tasawuf secara sungguh-sungguh.
b) Tingkatan kerohanian yang disebut maqam sifatnya langgeng atau bertahan lama, sedangkan ahwaal sifatnya sementara; sering ada pada diri manusia, dan sering pula hilang. Meskipun ada pendapat Ulama Tasawuf yang mengatakan bahwa maqam dan ahwaal sama pengertiannya, namun penulis mengikuti pendapat yang membedakannya beserta alasan-alasannya.
Tentang jumlah tingkatan maqam dan ahwaal, tidak disepakati oleh Ulama Tasawuf. Abu Nashr As-Sarraaj  mengatakan bahwa tingkatan maqam ada tujuh, sedangkan tingkatan ahwaal ada sepuluh.
Adapun tingkatan maqam menurut Abu Nashr As-Sarraj, dapat disebutkan sebagai berikut:
a)    Tingkatan Taubat (At-Taubah);
b)    Tingkatan pemeliharaan diri dari perbuatan yang haram dan yang makruh, serta yang syubhat (Al-Wara’);
c)    Tingkatan meninggalkan kesenangan dunia (As-Zuhdu).
d)    Tingkatan memfakirkan diri (Al-Faqru).
e)    Tingkatan Sabar (Ash-Shabru).
f)    Tingkatan Tawakkal (At-Tawakkul).
g)    Tingkatan kerelaaan (Ar-Ridhaa).
Mengenai tingkatan hal (al-ahwaal) menurut Abu Nash As Sarraj, dapat dikemukakan sebagai berikut;
a)    Tingkatan Pengawasan diri (Al-Muraaqabah)
b)    Tingkatan kedekatan/kehampiran diri (Al-Qurbu)
c)    Tingkatan cinta (Al-Mahabbah)
d)    Tingkatan takut (Al-Khauf)
e)    Tingkatan harapan (Ar-Rajaa)
f)    Tingkatan kerinduan (Asy-Syauuq)
g)    Tingkatan kejinakan atau senang mendekat kepada perintah Allah (Al-Unsu).
h)    Tingkatan ketengan jiwa (Al-Itmi’naan)
i)    Tingkatan Perenungan  (Al-Musyaahaah)
j)    Tingkatan kepastian (Al-Yaqiin).

3. Hakikat :
Istilah hakikat berasal dari kata Al-Haqq, yang berarti kebenaran. Kalau dikatakan Ilmu Hakikat, berarti ilmu yang digunakan untuk mencari suatu kebenaran. Kemudian beberapa ahli merumuskan definisinya sebagai berikut:
a. Asy-Syekh Abu Bakar Al-Ma’ruf mengatkan :
“Hakikat adalah (suasana kejiwaan) seorang Saalik (Shufi) ketika ia mencapai suatu tujuan …sehingga ia dapat menyaksikan (tanda-tanda) ketuhanan denganmata hatinya”.
b. Imam Al-Qasyairiy mengatakan:
“Hakikat adalah menyaksikan sesuatu yang telah ditentukan, ditakdirkan, disembunyikan (dirahasiakan) dan yang telah dinyatakan (oleh) Allah kepada hamba-Nya”.
Hakikat yang didapatkan oleh Shufi setelah lama menempuh Tarekat dengan selalu menekuni Suluk, menjadikan dirinya yakin terhadap apa yang dihadapinya. Karena itu, Ulama Shufi sering mengalami tiga macam tingkatan keyakinan:
1) “Ainul Yaqiin; yaitu tingkatan keyakinan yang ditimbulkan oleh pengamatan indera terhadap alam semesta, sehingga menimbulkan keyakinan tentang kebenaran Allah sebagai penciptanya;
2) “Ilmul Yaqiin; yaitu tingkatan keyakinan yang ditimbulkan oleh analisis pemikiran ketika melihat kebesaran Allah pada alam semesta ini.
3) “Haqqul Yaqqin; yaitu suatu keyakinan yang didominasi oleh hati nurani Shufi tanpa melalui ciptaan-Nya, sehingga segala ucapan dan tingkah lakunyamengandung nilai ibadah kepada Allah SWT. Maka kebenaran Allah langsung disaksikan oleh hati, tanpa bisa diragukan oleh keputusan akal”.
Pengalaman batin yang sering dialami oleh Shufi, melukiskan bahwa betapa erat kaitan antara hakikat dengan mari”fat, dimana hakikat itu merupakan tujuan awal Tasawuf, sedangkan ma’rifat merupakan tujuan akhirnya.

4. Marifat :
Istilah Ma’rifat berasal dari kata “Al-Ma’rifah” yang berarti mengetahui atau mengenal sesuatu. Dan apabila dihubungkan dengan pengamalan Tasawuf, maka istilah ma’rifat di sini berarti mengenal Allah ketika Shufi mencapai maqam dalam Tasawuf.
Kemudian istilah ini dirumuskan definisinya oleh beberapa Ulama Tasawuf; antara lain:
a. Dr. Mustafa Zahri mengemukakan salah satu pendapat Ulama Tasawuf yang mengatakan:
“Marifat adalah ketetapan hati (dalam mempercayai hadirnya) wujud yang wajib adanya (Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaannya.”
b. Asy-Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Kadiriy mengemukakan pendapat Abuth Thayyib As-Saamiriy yang mengatakan:
“Ma’rifat adalah hadirnya kebenaran Allah (pada Shufi)…dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan Nur Ilahi…”
c. Imam Al-Qusyairy mengemukakan pendapat Abdur Rahman bin Muhammad bin Abdillah yang mengatakan:
“Ma’rigfat membuat ketenangan dalam hati, sebagaimana ilmu pengetahuan membuat ketenangan (dalam akal pikiran). Barangsiapa yang meningkat ma’rifatnya, maka meningkat pula ketenangan (hatinya).”
Tidak semua orang yang menuntut ajaran Tasawuf dapat sampai kepada tingkatan ma’rifat. Karena itu, Shufi yang sudah mendapatkan ma’rifat, memiliki tanda-tanda tertentu, sebagaimana keterangan Dzuun Nuun Al-Mishriy yang mengatakan; ada beberapa tanda yang dimiliki oleh Shufi bila sudah sampai kepada tingkatan ma’rifat, antara lain:
a. Selalu memancar cahaya ma’rifat padanya dalam segala sikap dan perilakunya. Karena itu, sikap wara’ selalu ada pada dirinya.
b. Tidak menjadikan keputusan pada sesuatu yang berdasarkan fakta yang bersifat nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran Tasawuf, belum tentu benar.
c. Tidak menginginkan nikmat Allah yang banyak buat dirinya, karena hal itu bisa membawanya kepada perbuatan yang haram.

Dari sinilah kita dapat melihat bahwa seorang Shufi tidak membutuhkan kehidupan yang mewah, kecuali tingkatan kehidupan yang hanya sekedar dapat menunjang kegiatan ibadahnya kepada Allah SWT., sehingga Asy-Syekh Muhammad bin Al-Fadhal mengatakan bahwa ma’rifat yang dimiliki Shufi, cukup dapat memberikan kebahagiaan batin padanya, karena merasa selalu bersama-sama dengan Tuhan-nya.
Begitu rapatnya posisi hamba dengan Tuhan-nya ketika mencapai tingkat ma’rifat, maka ada beberapa Ulama yang melukiskannya sebagai berikut:
a. Imam Rawiim mengatakan, Shufi yang sudah mencapai tingkatan ma’rifat, bagaikan ia berada di muka cermin; bila ia memandangnya, pasti ia melihat Allah di dalamnya. Ia tidak akan melihat lagi dirinya dalam cermin, karena ia sudah larut (hulul) dalam Tuhan-nya. Maka tiada lain yang dilihatnya dalam cermin, kecuali hanya Allah SWT saja.
b. Al-Junaid Al-Bahdaadiy mengatakan, Shufi yang sudah mencapai tingkatan ma’rifat, bagaikan sifat air dalam gelas, yang selalu menyerupai warna gelasnya. Maksudnya, Shufi yang sudah larut  (hulul) dalam Tuhan-nya selalu menyerupai sifat-sifat dan kehendak-Nya. Lalu dikatakannya lagi bahwa seorang Shufi, selalu merasa menyesal dan tertimpa musibah bila suatu ketika ingatannya kepada Allah terputus meskipun hanya sekejap mata saja.
c. Sahal bin Abdillah mengatakan, sebenarnya puncak ma’rifat itu adalah keadaan yang diliputi rasa kekagumam dan keheranan ketika Shufi bertatapan dengan Tuhan-nya, sehingga keadaan itu membawa kepada kelupaan dirinya.
Keempat tahapan yang harus dilalui oleh Shufi ketika menekuni ajaran Tasawuf, harus dilaluinya secara berurutan; mulai dari Syariat, Tarekat, Hakikat dan Ma’rifat. Tidak mungkin dapat ditempuh secara terbalik dan tidak pula secara terputus-putus.
Dengan cara menempuh tahapan Tasawuf yang berurutan ini, seorang hamba tidak akan mengalami kegagalan dan tiak pula mengalami kesesatan.

-SELESAI-

Fiqh Al-mawarits (waris)/ Faraid dalam islam

Dasar-dasar Ilmu Al-mawarits

1. Pokok bahasan ilmu al-mawarits.
Pokok bahasan ilmu ini adalah cara pembagian harta warisan (At-tirkah) kepada ahli waris yang berhak menerimanya. At-tirkah adalah segala yang ditinggalkan oleh seseorang berupa harta pusaka. cara pembagiannya dan keterangan bagian masing masing ahli waris.

2. Sumber-sumber ilmu Al-mawarits

    * Al-qur'an Al-karim
    * Al-hadits
    * Ijma' para sahabat


3. Pentingnya ilmu Al-mawarits
Ilmu mawarits termasuk ilmu paling utama dalam syari'at islam dan termasuk dari setengah ilmu syariat islam.
Dikarnakan :

    * Alloh SWT sendiri yang menentukan bagian masing-masing ahli waris
    * Rasululloh SAW telah menyuruh kita mempelajari dan mengajarkan ilmu ini
    * Anjuran dan para sahabahat nabi
    * Para ulama salaf ash-sholihin tetap menjaga dan menyebarkan ilmu ini dengan mengkhususkan waktu mereka dalam mempelajari dan mengajarkannya


4. Pencetus (wadi') ilmu al-mawarits
Pencetus dan penentu ilmu ini adalah Alloh azza wa jalaa

5. Posisi ilmu mawarits di antara ilmu yang lain
Ilmu mawarits termasuk ilmu yang paling utama dalam syari'at islam dan termasuk sebahagian dari ilmu fiqih dan (bahkan lebih khusus lagi) dan ilmu berhitung (akutansi)

6. Mamfaat dan faedah mempelajari ilmu mawarits
Dengan ilmu mawarits ini akan menjadikan seseorang menguasai ilmu ini untuk membagi harta warisan secara syari'at islam. Memberikan hak waris kepada ahli waris yang berhak menerimanya. julukan mereka yang menguasai ilmu ini disebut Faraidhi

7. Tujuan Ilmu mawarits
Tujuan utama dari ilmu ini adalah memberikan hak waris kepada yang berhak mendapatkannya.

8. RukunAl-mawarits

    * 1. Mayit (al-muwarrits), yaitu seseorang yang meninggal dunia baik dengan meninggal hakiki atau hukmiy (ditentukan secara hukum oleh hakim setempat
    * Ahli waris (al-warits), yaitu kerabat yang ditinggalkan yang masih hidup persis ketika meninggalnya al-muwarrits
    * Harta (al-mawruts), yaitu harta warisan dari al-muwarrits setelah lewajiban terhadap si mayit  terlaksanakan.


9. sebab-sebab mendapatkan warisan

    * Hubungan keturunan hakiki (nasab)
    * Hubungan pernikahan yang sah
    * Hubungan tuan dengan hambanya


10. Syarat-syarat al-mawarits

    * Wafatnya seseorang secara pasti atau di tentukan hukum, seperti orang hilang atau hanyut dll
    * Ahli waris dinyatakan hidup secara pasti
    * Tidak adanya sebab-sebab terlarang untuk mendapatkan harta warisan.


11.Terlarangnya ahli warits mendapatkan hak warits

    * Hamba sahaya
    * membunuh (si mayit) dengan sengaja sedangkan pembunuhnya adalah ahli waris dari si mayit
    * berbeda agama (kafir)/ murtad


12. Hukum mempelajari dan mengajarkannya
Hukum mempelajari dan mengajarkan ilmu ini adalah Fadhu kifayah. Sedangkan hukum melaksanakan dan penerapannya adalah fardhu 'ain

Harta peninggalan (At-tirkah)

At-tirkah secara etimologi adalah segala sesuatu yang ditinggalkan seseorang. Secara terminologi adalah segala sesuatu yang ditinggalkan oleh seseorang yang telah meninggal dunia berupa harta atau segala sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan harta benda dan juga hak yang mencakup hak terhadap orang lain seperti khiyar 'aib, hak rahn dan lainnya. Disyari'atkan At-tirkah disini adalah al-milku At-tam (milik sempurna) dari seorang mayit yang sudah tidak ada hak orang lain di dalamnya.

Dengan kata lain harta warisan itu berbentuk :

    * Harta benda yang bersipat tetap seperti bagunan, tanah, kebun, dan lain sebagainya.
    * Harta benda yang bersipat tidak tetap atau yang bergerak seperti uang tunai, peralatan, kenderaan, pakaian, dan lain sebagainya.
    * Hutang-hutang orang lain (piutang) kepada si-mayit
    * Harta harta benda yang telah digadaikan oleh si-mayit dan boleh ditebus
    * Harta benda yang telah dibeli si-mayit masa hayatnya yang berupa pembelian yang telah telah di bayar tetapi belom diterima barangnya secara home delivey
    * Harta yang berupa simpanan di bank : saham, insurence dan lainnya yang dibolehkan secara syari'at
    * Hata lain yang mempunyai nilai kebendaan.

Para ahli waris tingkat pertama (ashabul al-irtsi) adalah sebagai berikut :

1. Ayah
2. Ibu
3. Kakek dari ayah (Wa in 'ala adalah dan seterusnya garis keturunan ke atas baik laki-laki maupun perempuan namun hanya dari nasab laki-laki seperti: ayah dan ibu dari kakek, ayah dan ibu dari ayah kakek dan seterusnya.
4. Nenek dari ayah
5. Nenek dari ibu
6. Anak laki-laki
7. Anak perempuan
8. Cucu laki-laki dari anak laki-laki (Wa in nazala adalah dan seterusnya garis keturunan ke bawah baik laki-laki maupun perempuan namun hanya dari nasab laki-laki seperti : anak laki-laki dan anak perempuan dari cucu laki-laki, anak laki-laki atau perempuan dari cicit laki-laki)
9. Cucu perempuan dari anak laki-laki
10. Suami atau isteri
11. Saudara kandung
12. Saudari kandung
13. Saudara seayah
14. Saudari seayah
15. Anak laki-laki dari saudara kandung
16. Anak laki-laki dari saudara seayah
17. Saudara seibu
18. Saudari seibu
19. Paman kandung (dari pihak ayah)
20. Paman seayah (dari pihak ayah)
21. Anak laki-laki dari paman kandung (dari pihak ayah)
22. Anak laki-laki dari paman seayah (dari pihak ayah)
23. Laki-laki yang membebaskan hamba (mu'tiq)
24. Perempuan yang membebaskan hamba (mu'tiqoh)


Al-ashobah

Menurut bahasa adalah : Kerabat laki-laki dari ayah. Dinamakan demikian karna mereka melingkupinya pada waktu berkumpul untuk menjaga dan melindunginya.

Menurut Istilah Fiqih : Setiap ahli waris yang tidak mempunyai bagian tertentu (pokok) dari pembagian harta peninggalan, terkadang mendapat bagain yang banyak karna ahli waris yang mendapatkan bagian pokok sedikit atau mendapatkan bagian kecil ketika ahli waris yang mendapat bagian pokok berkumpul banyak dalam pembagian.
(dalilnya; qs. An-nisa' ayat 176)

Al-ashobah ada dua macam:
1. Al-ashobah an-nasabiyah, yaitu ashobah yang disebabkan kedekatan hubungan kerabat.
dan ini ada tiga bagian:

    * a. Al-ashobah bi an-nafsi
    * b. Al-ashobah bi al-goir
    * c. Al-ashobah ma'a al-goir


2. Al-ashobah As-sababiyah, yaitu ashobah yang dikarnakan membebaskan hamba.

a. Al-ashobah bi an-nafsi
al-ashobah bi an-nafsi ada 3 hukum:

    * Hukum pertama:
      Mengambil semua harta apabila sendirian.
      Contoh: Seorang meninggal dunia tidak mempunyai ahli waris kecuali seorang anak laki-laki, maka anak laki-laki ini mengambil semua harta peninggalannya.
    * Hukum kedua:
      Mengambil sisa dari harta, apabila ahli waris yang mendapat bagian pokok telah mengambil bagian mereka.
      Contoh: Seseorang meninggal dunia meninggalkan seorang isteri dan anak laki-laki, maka isteri mengambil bagian pokok lebih dahulu yaitu 1/8 dari harta peninggalan dan sisanya bagian anak laki-laki tadi.
    * Hukum ketiga:
      Tidak mendapat apa apa apabila sumua harta habis dibagi oleh para ahli waris yang mendapat bagian pokok, terkecuali : ayah, kakek dan  anak-laki dari si-mayit karna tidak mungkin berkumpul ahli waris akan menghabiskan warisan sedangkan anak laki-laki ada sedangkan ayah dan kakek punya bagian pokok 1/6 dari harta peninggalan.


b. Al-ashobah bi al-goir

Al-ashobah bi al-goir adalah: Para ahli waris yang mengambil semua harta atau sisa setelah ashobah al-furud mengambil bagiannya dengan sebab orang lain. (dalilnya; qs. an-nisa:11)

C. Al-ashobah ma'a al-goir

Al-shobah ma'a al-goir adalah: setiap ahli waris perempuan yang mempunyai bagian pokok, terdiri dari anak perempuan, cucu perempuan, saudari kandung, dan saudari seayah. Sedangkan ahli waris laki-laki yang menjadikan mereka sebagai ahli waris ashobah bi al-goir tidak ada.

Sebuah ilmu yang kini mulai di abaikan oleh Ummat Islam ini, apa lagi generasi muda yang selalu sibuk dengan aktifitas da'wahnya. padahal betapa pentingnya ilmu ini, karena sederetan kaidah-kaidah di dalamnya perlu perhatian khsus...

berilmu sebelum beramal, itulah mereka yang mengaku beraqidah ahlus sunnah waljamaah, yang tegak dalam hujjahnya di atas sunnah shahihah...